Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cita-cita Keliling Indonesia tapi Gaji UMR Jogja

unsplash.com

Saya dan istri selalu membayangkan, tiap hari hidup di dalam sebuah mobil Panther Touring yang didesain dengan model campervan. Keliling Indonesia, singgah di satu kota selama satu minggu, dan kemudian beranjak ke kota lain ketika hati sudah merasa bosan.

Sambil jalan-jalan, sambi jelajah satu demi satu tempat wisata yang populer. makan makanan khas yang gak bisa ditemukan di tempat lain, hingga berinteraksi dengan warga sekitar dengan menggunakan bahasa lokal yang kami ucapkan dengan nada terbata-bata.

Beberapa orang sudah berhasil melakukan itu. Saya suka menontonnya di media sosial, terutama YouTube. Setiap pagi, mereka menyeduh kopi di pinggir pantai dengan alat yang estetik. Konten itu berhasil membuat saya iri.

Sayangnya, cita-cita itu hanya tumbuh di kepala saya dan istri. Belum benar-benar terealisasi. Satu-satunya sebab, ya, karena kami masih bekerja. Kami harus mencari uang untuk memastikan bulan depan kami masih bisa makan.

Mimpi yang Mahal untuk Upah yang Pas-pasan

Saya hidup di Jogja, sebuah kota romantis tapi upahnya sangat rendah. Di kota ini, banyak orang punya cita-cita yang besar. Namun, idealisme penguasa dan perkembangan ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata membuat kota ini tidak benar-benar bisa memfasilitasi cita-cita warganya.

Romantisme Jogja sebagai kota yang murah setiap hari menghiasi timeline media sosial saya. Tips tentang bertahan hidup di Jogja dengan uang terbatas pun mudah sekali ditemukan. Semua konten tutorial dan tips hemat itu seakan ingin memberitahu kita kalau Jogja memang bukan tempat yang pas untuk sekadar mencari uang.

UMR Jogja per tahun 2026 ini adalah Rp2.827.593. Naik sekitar 6,5 persen dari tahun kemarin. Kalau dibandingkan dengan kota di sekitarnya, nominal ini memang terasa lebih besar. Tapi jika dibandingkan dengan biaya hidup di kota Jogja, uang Rp2,8 juta masih sangat terasa di bawah standar.

Supaya Anda tahu lebih jelas tentang betapa gak masuk akalnya UMR Jogja, mari sama-sama kita hitung dengan pendekatan yang rasional. Asumsi saya dan istri sama-sama bekerja dan bergaji sekitar Rp2,8 juta di Jogja. Jadi penghasilan kami berdua adalah Rp5,6 juta.

Harga kontrakan kami setahun sekitar Rp11 juta dan uang yang harus disisihkan setiap bulannya adalah Rp900 ribu. Uang listrik dan tagihan bulanan rumah biasa saya anggarkan sekitar Rp600 ribu. Sisa Rp4.1 juta.

Uang makan perhari saya budget di angka Rp75 ribu, jadi dalam satu bulan menghabiskan uang sebanyak Rp2,25 juta. Sisa Rp1,85 juta. Uang bensin untuk dua motor dalam sebulan habis Rp400 ribu, jadi sisa uang kami adalah Rp1,45 juta.

Asumsi dalam satu bulan kami tidak aneh-aneh. Tidak ada kebutuhan lain selain itu, jadi gaji kami sisa sekitar Rp1.450.000. Tapi, sangat mustahil untuk tidak menggunakan uang itu. Dalam satu bulan, kebutuhan selalu datang secara mendadak. Jadi, mau tidak mau, uang sekecil itu pasti akan kami pakai juga. Paling-paling sebulan sisa uang kami sebesar Rp500 ribu.

Dengan sisa uang yang gak sampai sejuta dalam sebulan, tentu akan sangat berat dan membutuhkan waktu puluhan tahun agar kami bisa menunaikan cita-cita membeli mobil Panther Touring dan mengubahnya menjadi sebuah campervan yang nyaman.

Keliling Indonesia-nya Nanti, Main ke yang Dekat-dekat Dulu

unsplash.com

Dari perhitungan itu, Jogja memang benar-benar tempat yang cocok untuk orang yang sedang bertahan hidup saja. Jujur, saya sempat mengutuk diri saya sendiri, kenapa memilih tinggal di kota ini. Padahal, ada kota lain yang lebih bisa menjanjikan secara ekonomi ketimbang Jogja.

Faktanya, 10 kali saya berusaha meninggalkan Jogja, 10 kali saya gagal. Kota ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Tiga hari saya pulang ke Lamongan, rasanya ingin selalu kembali ke kota ini. Meski dari segi ekonomi, saya merasa terdzalimi.

Meski begitu, daripada saya berandai-andai keliling Indonesia dengan campervan (yang entah kapan bisa terwujud), saya akan mulai berdamai dengan situasi, dan mencoba untuk mewujudkan mimpi besar itu dengan cara yang mudah dulu.

Kutukan dan sumpah serapah tidak akan membuat seseorang bisa mencapai apa yang dia inginkan. Saya belajar dari warga X yang setiap hari mengutuk dan mengucapkan sumpah serapah terhadap negara yang dipimpin oleh presiden mereka anggap kocak. Tapi, mereka tidak pernah benar-benar menang. Saya tentu tidak ingin seperti itu.

Tinggal di Jogja, di satu sisi adalah cobaan, tapi di sisi lain kota ini sangat bisa dicari sisi baiknya. Jogja adalah tempat paling cocok untuk manusia-manusia yang suka dengan keindahan alam. Kota ini punya segudang tempat yang bisa dijangkau dengan mudah. Dari gunung sampai pantai.

Letak Jogja juga sangat strategis. Hanya sekitar 4 jam ke Dieng, 3 jam ke Tawangmangu, 1,5 jam ke Merbabu, dan 2,5 jam ke Sindoro Sumbing. Semua tempat yang saya sebutkan bisa jadi opsi mini keliling Indonesia dengan budget yang jauh lebih murah.

Tempat-tempat di atas memang tidak akan bisa menggantikan Labuan Bajo, Raja Ampat, hingga Danau Toba. Namun, setidaknya, saya dan istri bisa memulai petualangan dari sini. Dari sebuah tempat yang benar-benar dekat dengan tempat tinggal kami.

Saya sudah siap dengan semuanya, saya siap membuat konten setiap hari, pamer aktivitas membuat kopi dengan view yang indah di pagi hari, hingga lari-larian di atas gunung dengan latar belakang lautan awan yang sangat eksotis.

Tinggal di Jogja sekaligus melatih mental saya untuk menjadi seorang petualang. Melihat banyak orang yang memulai dari sini membuat saya berani memandang ke depan tentang betapa dunia ini sangat luas dan perlu dijamah satu-persatu.

UMR Jogja adalah satu-satunya penghalang kenapa kami tidak bisa segera mewujudkan mimpi keliling Indonesia. Namun, tinggal di Jogja juga jadi alasan kenapa kami berani bermimpi setinggi dan semahal itu.

Posting Komentar untuk "Cita-cita Keliling Indonesia tapi Gaji UMR Jogja"