Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Letusan Gunung Merapi Tahun 1930: Kronologi, Korban, dan Dampaknya

Letusan Gunung Merapi Tahun 1930 (Sumber KITLV, Diwarnai dan dimodifikasi oleh Gemini AI)

Dari skala letusan dan volume material yang dikeluarkan dari perut bumi, tahun 2010 tercatat sebagai letusan terbesar Merapi dalam sejarah modern. Jaringan Informasi Bencana Kabupaten Sleman (SDIN Sleman) mencatat letusan itu membuat 398 orang meninggal dunia, ribuan orang luka-luka, dan 300.000-507.849 orang terpaksa harus mengungsi.

Namun, pada tahun itu, canggihnya teknologi dan kesadaran masyarakat akan bahaya gunung berapi sudah sangat tinggi. Sehingga, masyarakat yang menjadi korban letusan jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 1930.

Tahun 1930 adalah tahun di mana Pemerintah Hindia Belanda dihadapkan pada masalah yang rumit. Pada tahun itu, Gunung Merapi meletus dengan skala letusan yang sangat besar di masanya. Bahkan, bencana itu dikatakan sebagai yang terbesar di Jawa Tengah.

Ada ribuan manusia yang meninggal dunia, ribuan hewan ternak mati kepanasan, dan 8 kampung di lereng gunung rata oleh aliran lahar dan awan panas yang tiba-tiba keluar dari puncak gunung setinggi 2.930 mdpl itu.

Sejarah mencatat bahwa gunung Merapi adalah gunung yang paling aktif di Indonesia. Seorang Eropa yang menggambarkan dengan jelas betapa gunung ini sangat berbahaya adalah Franz Junghuhn. Ia mendaki Gunung Merapi pada tahun 1837 lewat jalur Selo, Boyolali.

Dalam perjalanannya, seorang dokter dan ahli botani dari Jerman itu menemukan banyak sekali spesies jamur dan tumbuhan yang tumbuh di lereng Merapi. Selain itu, beberapa warga lokal yang menemani sampai ke puncak juga memberikan insight baru tentang budaya Jawa kepada Junghuhn.

Penelitian Junghuhn ke Merapi membawanya sampai ke puncak gunung. Ia menjajaki batuan bibir kawah gunung Merapi satu persatu. Melihat pemandangan indah yang nampak di kejauhan, demi memuaskan rasa penasarannya terhadap gunung yang dianggap suci oleh Keraton Jogja ini.

Penelitian Junghuhn tentang gunung Merapi membawa saya ke tulisan ini. Saya tertarik menulis artikel ini usai membaca petualangan Junghuhn di Gunung Merapi. Petualangan yang usianya hampir 200 tahun itu menggambarkan situasi yang sama sekali tidak berubah sampai sekarang.

Junghuhn mencatat jika Merapi adalah gunung yang selalu berkobar. Mengeluarkan awan panas yang membumbung ke angkasa, atau sekadar sedikit menggugurkan kubah lava yang terbentuk di bibir-bibir kawahnya. Pernyataan itu ditulis pada tahun 1837, dan sekarang, tahun 2026, Merapi masih persis seperti itu. Aktif dan agresif.

Kegiatan historiografi tidak akan bisa dilakukan tanpa adanya sumber yang kredibel. Saya kesulitan mencari sumber yang menjelaskan tentang letusan Gunung Merapi tahun 1930. Sebagian besar artikel di internet menulis letusan tahun 1930 dengan narasi yang sangat singkat. Tanpa kronologi dan tanpa data korban.

Hanya ada satu sumber tertulis yang menjelaskan kronologi letusan ini dengan sangat lengkap. Sumber itu adalah sebuah jurnal yang ditulis oleh seorang akademisi bernama Ahmad Ahsanu Ramdani Putra dan Wisnu, dalam jurnal Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah.

Artikel ini dengan percaya diri saya katakan sebagai sebuah proses penelitian sejarah yang valid dan bisa Anda pakai untuk referensi. Pasalnya, artikel ini ditulis dengan mayoritas menggunakan sumber primer, yaitu surat kabar Hindia Belanda yang ditulis pada tanggal dan bulan yang sama saat terjadinya peristiwa.

Untuk mempermudah pembahasan, saya akan membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian dalam rangka untuk menjawab pertanyaan kronologi kejadian, data dan kondisi korban, hingga dampaknya untuk masyarakat dan pemerintah.

Karakteristik Gunung Merapi

Merapi adalah gunung yang sangat aktif, dan agresif. Saya selalu suka menyebut Merapi adalah gunung yang agresif, karena tepat satu minggu yang lalu (dari saya menulis artikel ini) seorang pendaki asal Jogja meninggal dunia karena tersesat dan terjatuh di jurang Merapi lewat via jalur Sapuangin.

Alih-alih bersimpati, orang-orang justru mengecam tindakan pendaki itu dan dua orang temannya (yang selamat). Menurut berita yang beredar, ada tiga orang pendaki yang melakukan pendakian gunung Merapi secara ilegal. Hal itu lantaran sejak tahun 2018 pendakian Merapi telah ditutup karena statusnya yang naik ke level Siaga III.

Sudah 8 tahun Merapi tutup. Selama 8 tahun itu, hampir seminggu sekali Merapi selalu memuntahkan guguran lava panasnya. Itulah karakter Merapi, dan 8 tahun adalah waktu yang relatif lebih pendek jika dibandingkan dengan aktivitas Merapi yang tidak pernah berhenti selama 200 tahun lamanya.

Dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (08-11-1935), seorang Eropa bernama Dr. M.A Hartman, menjelaskan bahwa letusan dahsyat Merapi pertama kali terjadi pada tahun 1006 Masehi atau 928 Saka. Tidak ada sumber yang jelas tentang letusan itu dan bagaimana dampaknya pada masyarakat.

Namun, sejarah mencatat, pada 929 M, sebuah kerajaan besar di Jawa Tengah, yaitu Mataram Kuno, yang dipimpin oleh Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sejarawan mencatat jika pemindahan pusat kerajaan itu disebabkan karena letusan Gunung Merapi.

Saya tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang peristiwa letusan di tahun-tahun itu. Apakah letusan yang disebutkan oleh Hartman dan letusan era Mpu Sindok itu terjadi di periode yang sama atau tidak. Pada intinya, sejak ribuan tahun yang lalu, Merapi adalah gunung yang sangat agresif.

Saking agresifnya, dalam surat kabar NRC Handelsblad (03-10-1987), para peneliti Eropa menyebut Gunung merapi dengan sebutan “monster”. Julukan itu keluar bukan tanpa alasan. Gunung Merapi dituliskan telah meletus secara rutin selama 200 tahun terakhir, dan selalu menumpuk tekanan untuk letusan yang baru.

Dalam sumber yang sama, seorang peneliti ahli geologi dari Survei Geologi AS bernama Thomas Casedevall mengatakan jika Gunung Merapi memiliki kesamaan dengan Gunung St. Helens. Kesamaan itu berdasarkan dari segi komposisi lava, bentuk kawah, sejarah letusan, hingga aliran lumpur yang mengalir menuruni lereng gunung.

Perbedaannya terletak pada kearifan lokal masyarakatnya. di St Helens, sedikit sekali orang yang tinggal di lereng gunung tersebut. Sementara itu, di Gunung Merapi, terdapat puluhan ribu orang yang tinggal di lerengnya dan menggantungkan hidup di sana.

Jarak gunung Merapi dengan kota besar di sekelilingnya juga cukup dekat. Merapi hanya berjarak sekitar 30 km dari Kota Yogyakarta dan 40 km dari Kota Magelang. Hal inilah yang membuat gunung ini selalu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan para peneliti. Terutama pada sekitar tahun 1930.

KITLV A1357 - Gunung Merapi di Jawa Tengah dengan pemandangan umum area lahar setelah letusan tahun 1930.

Peningkatan Aktivitas sebelum Letusan

Sebelum meletus, telah terjadi peningkatan aktivitas di gunung ini. Dalam koran De nieuwe vorstenlanden (26-11-1930), dikatakan jika peningkatan aktivitas signifikan terjadi di sisi Magelang, satu bulan sebelum letusan. Tepatnya pada 25 November 1930, di malam hari.

Di hari berikutnya, pada 26 November, dituliskan muncul sebuah aliran lahar kecil yang mengalir menuruni gunung dan menuju ke jurang. Hal itu diperparah dengan adanya gempa bumi ringan yang dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar Selo, Boyolali. Sejak saat itu, aktivitas gunung terus berlanjut dan semakin menakutkan. 

Beberapa hari sebelum letusan, dikatakan jika warga desa telah mendapatkan peringatan untuk siap siaga segera mengungsi jika terdengar bunyi kentongan. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan warga dari letusan yang berpotensi mengancam hidup dan ekonomi mereka.

Namun, kesadaran warga akan bahaya letusan gunung belum terbentuk sebaik sekarang. Sehingga, beberapa warga tidak benar-benar meninggalkan tempat tinggalnya saat peringatan itu dibunyikan. Hal inilah yang menyebabkan korban banyak berjatuhan saat Merapi memuntahkan awan panasnya.

Peristiwa Letusan

Bencana letusan terjadi pada 18 Desember 1930. Mengutip dari artikel berjudul “Kajian Historis Letusan Gunung Merapi Tahun 1930” dalam jurnal AVATARA: Jurnal Pendidikan Sejarah, dituliskan jika Merapi meletus pada hari Kamis, 18 Desember 1930 pukul 08.40 pagi. Letusan itu menyerang ke arah barat daya.

Dalam letusan itu, Merapi mengeluarkan lava panas yang mengikuti aliran Kali Blongkeng dan mengejutkan masyarakat Srumbung, Dukun, Muntilan, dan daerah lereng Merapi lainnya. Lava itu keluar bersama dengan suara gemuruh yang sangat keras.

Setelahnya, hujan abu turun sangat lebat, dan menimbulkan kepanikan yang luar biasa di sejumlah wilayah terdampak. Hal ini membuat situasi menjadi semakin memburuk.

Aliran lava yang turun dari puncak ke lereng Merapi menyebabkan kerusakan yang ekstrem. Akibatnya, warga yang tinggal di bantaran kali pun merasakan dampaknya. Korban berjatuhan, harta benda lenyap, dan pemukiman penduduk rata oleh aliran lava yang sangat panas.

Malam harinya, setelah kondisi benar-benar kalut, sekitar pukul 21.30, suara gemuruh kembali terdengar dari puncak gunung. Suara itu dideskripsikan seperti sebuah guntur dari kejauhan, disertai dengan cahaya kilat yang nampak terang di atasnya.

Sehari setelahnya, yaitu pada Jumat 19 Desember 1930, letusan susulan terjadi lebih dahsyat ketimbang hari sebelumnya. Sebuah koran Hindia Belanda Leeuwarder nieuwsblad: goedkoop advertentieblad (22-12-1930) mencatat dengan jelas dahsyatnya letusan itu dengan sangat detail dan presisi.

Letusan itu dimulai pada pukul 08.30 pagi, mengeluarkan awan panas yang tampak seperti bubuk putih keabuan yang lembut selembut air. Material panas itu keluar dari kawah Merapi dan turun dengan kecepatan ekstrem.

Peristiwa itu dibarengi dengan adanya suara gemuruh hebat yang membuat seorang mantri dari stasiun seismograf di Maron melarikan diri dan turun dari posnya dengan keadaan setengah telanjang. Kepanikan yang terjadi di tengah masyarakat sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Beberapa saat setelahnya, badai datang dengan sangat dahsyat dan mengamuk dari atas gunung dan melalui lembah-lembah. Suara angin sangat kencang, namun, suara gemuruh dari puncak Merapi masih sangat jelas dan tidak bisa benar-benar tertutupi oleh apapun.

Hujan lumpur terjadi di mana-mana dan membuat keadaan menjadi gelap gulita. Hal itu juga diperparah dengan langit yang sangat pengap dan bau belerang yang kuat. Akibatnya, banyak penduduk desa yang memilih untuk melarikan diri ke kota untuk mengungsi sekaligus menyelamatkan diri.

Keesokan harinya, pada Sabtu, 20 Desember 1930, Gunung Merapi mulai dapat terlihat dengan jelas. Menurut catatan, pemandangan itu sangat hebat, dengan kobaran api yang menjulang dari desa-desa dan hutan yang terbakar akibat letusan yang dahsyat.

KITLV A1357 - Gunung Merapi di Jawa Tengah pada saat erupsi tahun 1930

Penanganan Korban

Masih dalam sumber yang sama, pada Minggu 21 Desember, jumlah korban tewas meningkat drastis. Catatan hari itu menuliskan ada 700 korban meninggal dunia dan 8 desa telah hancur total. Dua mayat pria ditemukan di dalam jurang Blengkong (Blongkeng) dengan kondisi hangus di samping dua kerbau.

Korban letusan yang selamat mulai memadati kota-kota di Jawa Tengah untuk berlindung. Mereka disebutkan telah kehilangan akal sehatnya (stres) akibat letusan besar yang gak masuk akal. Dituliskan jika pada saat itu, Minggu (21/12) Merapi masih memuntahkan awan panasnya selama 4 hari berturut-turut.

Rumah sakit Magelang saat itu menampung sekitar 2.000 pengungsi. Sementara rumah sakit Salam dan Muntilan masing-masing menampung korban sekitar 500 orang. Beberapa masyarakat yang selamat memilih untuk menjauh dari kota dan berlindung ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari lumpur panas yang mengancam nyawa mereka.

Data pada hari itu menyebutkan jika longsoran dari lumpur akibat letusan Merapi telah bertambah luas sejauh 4 km. Akibatnya, 140 hektare sawah, 900 hektare lahan pertanian, dan 1.500 ekor ternak musnah dan hangus terbakar.

Penjelasan lanjutan dari Jurnal AVATARA: Journal Pendidikan Sejarah, jika dokter dan perawat terus bekerja keras untuk membantu korban yang terdampak letusan. Mulai dari korban luka ringan hingga luka parah.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan beberapa korban yang mengalami kerusakan parah pada paru-paru mereka akibat menghirup udara yang mematikan dari letusan Merapi.

Pencarian ke desa-desa yang terdampak terus dilakukan oleh anggota militer. Semua korban yang ditemukan meninggal dunia di desa-desa pun telah dikuburkan. Proses itu memerlukan waktu dan tenaga yang besar dari berbagai kalangan.

Petugas yang menguburkan jenazah korban letusan diwajibkan menggunakan perban desinfektan untuk menutupi mulut dan hidung mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya perlindungan diri. 

Berbeda dengan penanganan manusia, bangkai hewan ternak yang mati ditangani dengan cara disiram minyak tanah dan dibakar. Pembakaran itu bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit di daerah yang terdampak bencana.

Jumlah pengungsi yang terdampak letusan Gunung Merapi sampai 22 Desember adalah sebagai berikut: Muntilan 5000 pengungsi, Tegalsari 2.000 pengungsi, Salam 1.500 pengungsi, Blabak 1.000 pengungsi, dan di Sawangan 14.500 pengungsi.

Para korban letusan ditangani dengan sangat manusiawi. Mereka diberikan makanan setiap jam 11 dan jam 5 sore. Makanan di pengungsian dimasak di dapur keliling yang terdiri dari 40 unit. Menu yang disediakan adalah nasi, sayur, tempe, dan sepotong ikan asin.

Pada Sabtu, 27 Desember pengungsi diperkirakan telah mencapai 29.000 orang. Sekitar 15.000 orang di antaranya menerima bantuan makanan dari pemerintah, dan sisanya mengungsi di rumah keluarga dan kerabat yang tidak terdampak.

Jumlah korban yang mengalami luka-luka tercatat tidak begitu banyak. Hal tersebut disebabkan gelombang panas dari gunung terlalu mematikan. Gelombang panas tersebut menyebabkan luka bakar yang serius pada paru-paru, sehingga orang yang terpapar akan langsung kehilangan nyawanya sebelum sempat melarikan diri.

Inspeksi kerusakan setelah letusan Merapi pada 18 Desember 1930.

Dampak Letusan

Letusan sebesar itu tentu menimbulkan dampak yang tidak biasa. Bantuan datang terus menerus, terutama dari Pemerintah Hindia Belanda. Militer Hindia Belanda juga terjun langsung untuk melakukan evakuasi pada korban yang terdampak. Mereka diberi tempat tinggal sementara, hingga fasilitas kesehatan di rumah sakit.

Selain awan panas, pasir juga mengalir deras dari puncak ke lereng Merapi. Aliran pasir tersebut memiliki suhu yang sangat panas, dan diperkirakan memiliki panjang sekitar 6 km, lebar rata-rata 200 meter, dan ketebalan 25 meter.

Akibat letusan dahsyat itu, semua perjalanan kereta api mengalami penundaan. Jembatan kereta api dan jembatan untuk lalu lintas di jalan raya dekat Tempel sangat mengkhawatirkan. Komunikasi antara Jogja dan Magelang pun terputus.

Seluruh pemandangan yang dahulu memperlihatkan hamparan sawah dan kebun yang luas kini telah hancur akibat pasir dan lumpur dari Merapi yang membakar segalanya. Lahar meluas hingga ke desa Bedjongan pada hari Jumat, sekitar 3 km di hilir di sepanjang kali Blongkeng Magelang.

Di wilayah Kota Yogyakarta, hujan abu terjadi sejak hari Jumat (19/12) sampai Sabtu (20/12). Abu yang turun sangat tebal sehingga menciptakan pemandangan seperti turun salju di kota tersebut. 

Selanjutnya, pada Jumat (19/12) sore, aliran lahar dingin meluncur deras melewati jurang Kali Kuning dan merusak pasokan air ke Kota. Seluruh instalasi penampungan air yang baru dibangun (sekitar 40.000 guilder) seketika lenyap akibat aliran lahar tersebut.

Pada Sabtu 27 Desember 1930 pagi, pukul 09.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersama rombongan datang langsung dengan menggunakan helikopter ke lokasi terdampak bencana. Selanjutnya, ia pergi ke Muntilan untuk mendengarkan penjelasan tentang situasi yang terjadi dari seorang ahli vulkanologi Dr. Neumann yang berasal dari Padang.

Kunjungan hari kedua dimulai pada pagi hari didampingi Dr Neumann. Mereka mengamati wilayah yang terdampak bencana letusan. Setelahnya, ia kembali ke Muntilan untuk meninjau langsung lokasi di sekitar Srumbung atau Dukun untuk melihat kerusakan yang terjadi.

Usai kunjungan itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda membuat kebijakan konkret dengan membentuk sebuah komite bantuan di Magelang. Komite tersebut terdiri dari residen, bupati, asisten residen Maurenbrechter, serta kedua wedana setempat. Hubungan antara sipil dan militer untuk membantu korban bencana sudah diatur sedemikian rupa dalam sebuah komando yang jelas.

Pertama, membangun barak-barak untuk tempat tinggal sementara bagi para pengungsi. Kedua, menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban yang hilang. Ketiga, mendirikan pos-pos untuk menjaga keamanan masyarakat.

Sementara itu, pihak kepolisian melakukan pengawasan keamanan dan ketertiban untuk mencegah terjadinya peristiwa pencurian di tengah kondisi bencana yang sedang dialami masyarakat.

Menurut catatan Koran De Locomotief (29-12-1930) korban bencana letusan Gunung Merapi mencapai 1.300 orang. Ditambah 859 rumah terbakar, 530 runtuh, di sekitar 20 pemukiman, 2.500 ekor ternak hilang, dan lebih dari 3.600 sawah dan lahan pertanian hancur. 

Dibutuhkan dana sebesar 60.000 gulden untuk membangun kembali rumah yang telah hancur. Sementara kerugian pada sektor peternakan mencapai 45.000 gulden. Sementara itu, kebutuhan dana untuk makan para pengungsi mencapai 50.000 gulden. Sehingga total kerugian diperkirakan mencapai 350.000 gulden.

Sampai sekarang, letusan Gunung Merapi tahun 1930 masih tercatat sebagai letusan yang paling mematikan sepanjang sejarah modern Gunung Merapi. Gunung ini tidak pernah benar-benar tidur dan selalu memuntahkan awan panasnya setiap saat. Tanpa pertanda dan tanpa aba-aba.

Galeri:

KITLV A15 - Lahar Blonkeng di Merapi
KITLV A312 - Kuburan manusia dan hewan di antara pepohonan yang hangus setelah letusan Merapi pada 18 Desember 1930

KITLV A1357 - Aliran lahar (lihat awan) dari Merapi di Jawa Tengah setelah letusan tahun 1930.

Desa yang hancur setelah letusan Merapi pada 18 Desember 1930.

KITLV A1412 - Jejak lahar setelah letusan Merapi di Jawa Tengah pada tahun 1930

Blongkengavin di Jawa Tengah, kemungkinan setelah letusan Merapi pada 18 Desember 1930.

Posting Komentar untuk "Letusan Gunung Merapi Tahun 1930: Kronologi, Korban, dan Dampaknya"